“Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. ath-Thahawi).
Sebisa mungkin, jangan pernah tunjukkan ketidakmampuan kita kepada anak-anak, termasuk menjanjikan yang belum tentu kita akan penuhi.
Ucapan seperti, "Nanti ya nak!" itu sepertinya biasa saja namun bawah sadar sang anak akan terus berharap dan menanti. Jika kita lalai dan mengingkari apa yang kita janjikan apalagi ketika direspons dengan emosi serta kemarahan untuk menutupi ketidakmampuan maka ini adalah salah satu program 'memiskinkan anak'.
Banyak orang tua yang menutup ketidakmampuannya dengan teriakan, jewer, pukul, cubit dan cemooh bahkan yang lebih sering dan fatal adalah dengan DUSTA. Intinya ya karena orang tua nggak sanggup memenuhi permintaan anaknya.
Riset menemukan bahwa DNA orang tua dengan mudah terwarisi oleh anak dan teraktivasi ketika orang tua menampilkan suatu kebiasaan tertentu. Saat itulah aktivasi 'bad DNA' mulai terjadi pada anak untuk ditiru persis.
Saya akhirnya menyadari ketika kata-kata, "Emangnya nyari duit itu gampang?!"
"Memang papa mu ini punya pohon duit?!"
"Eeeeiit jangan pegang-pegang barang itu! Mama nggak kuat ganti kalau rusak!"
"Sudah deh nggak usah minta macam-macam!"
"Kamu ini bikin uang ayah habis saja!"
Serta berbagai ucapan 'spontan' lainnya ternyata adalah bentuk sihir yang mampu menentukan nasib anak-anak kita dan program mewariskan kemiskinan yang efektif.
Memberi sesuatu tidak harus mahal, agar kebahagiaan anak tidak terbatas dan menjadi bersyarat. Cukup tunjukkan kemampuan memenuhinya bukan nilainya, sehingga anak tak perlu diajarkan mana yang mahal dan murah. Ganti dengan istilah harga tinggi dan terjangkau. Sekali lagi, cukup wariskan tingkat KEMAMPUAN dalam memenuhinya.
Kami mengajarkan kepada anak-anak kami bahwa tidak ada 'bedanya' antara keluar negeri dengan didalam negeri, sehingga bawah sadarnya tertanam bahwa pergi kemanapun mudah. Kekeliruan kita sebagai orang tua adalah dengan menyangka bahwa MAHAL itu MEMBAHAGIAKAN.
Padahal bagi anak dibelikan balon ketika mereka minta dengan dibelikan drone jutaan rupiah itu tak ada bedanya. Masuk ke Universal Studio dengan ke Gua Sunyaragi yang gratis ini nggak ada bedanya bagi anak-anak. Mereka yang penting senang. Dan kitalah yang mulai menanamkan ini mahal, itu murah, ini bisa, itu tak mampu, ini boleh, itu tak boleh.
Berkaca dari tinjauan psikologis sang Nabi, tingkat kemampuan kita memenuhi permintaan anak-anak kita menentukan keyakinan anak-anak kita dalam memperoleh rezeki, kemakmuran dan kekayaan. Maka, jadilah perantara kebesaran Allah Yang Maha Kaya bagi keluarga kita.
Salam spektakuler!
Copas dari Chanel telegram nya archan @ArchanTheRevolutionist