Senin, 02 Oktober 2017

Sanggupkah Kita Membayangkan Tempat Tinggal Sang Nabi ?


Saudaraku, mari kita duduk sejenak di lantai masjid ini. Engkau berada di sampingku, kita berdua sedang memandang wajah bercahaya yang sedang berkisah di depan masjid. Dialah Sahabat Umar bin Khattab.

Orang-orang di sekeliling kita memperhatikan dengan tenang seolah burung sedang bertengger di atas kepala mereka. Hari ini suara menggelegar Sahabat Umar tidak terdengar, yang terekam hanya kisah lirih dari lisannya. Memangnya siapakah yang sanggup menahan diri saat harus menceritakan kenangan bersama sang pemimpin Baginda Nabi Muhammad?

"Suatu hari aku menemui kekasihku Rasulullah di dalam rumahnya. Saat itu Beliau berada di atas tikar. Lalu aku duduk, ternyata aku dapati beliau hanya mengenakan selembar kain dan tidak ada kain lain selain yang dipakainya, sementara tikar itu telah membekas pada sisi beliau."

Dengarkanlah kini Al-Faruq mulai bicara. Pasanglah telinga kita baik-baik wahai saudaraku.

"Aku menyapu pandanganku ke sekeliling rumah Rasulullah. Aku melihat segenggam gandum sekitar satu Sha' dan daun yang dipergunakan untuk menyamak yang terletak di sudut kamar serta kulit yang menggantung."

Jangan sampai kita melewati kisah ini. Tidak semua orang mendapat kesempatan berkunjung ke dalam rumah Sang Nabi. Simaklah terus.

"Tak terasa kedua mataku berlinang air mata. Sehingga Rasulullah bertanya kepadaku apa yang membuatku menangis dan meluluh seperti ini."

Mengapa orang-orang di sekeliling kita mulai menunduk? Apa mereka sudah menebak apa yang selanjutnya disampaikan Sahabat Umar tersebut?

"Aku lantas menjawab, bahwa Beliau adalah Nabi Allah, bagaimana aku tidak meneteskan air mata, sementara tikar ini membekas di sisinya? Dan aku tidak melihat dalam rumahnya kecuali apa yang aku lihat. Padahal Raja Kisra dan Kaisar Romawi dipenuhi buah-buahan dan sungai-sungai, sedangkan Beliau adalah Rasulullah dan pilihan-Nya, namun ruangannya hanya seperti ini!"

Saudaraku tahanlah tangismu sedikit lagi, kupikir kalimat terakhir Sahabat Umar akan menghibur hati kita.

"Kemudian Rasulullah dengan lembut menenangkanku, Beliau menjawab bahwa bagian kita adalah negeri akhirat, dan bagian mereka para raja adalah negeri yang fana. Dan kita ridha kepada Allah atas bagian kita ini!"

Demikianlah wahai saudaraku, sengaja aku mengajakmu tamasya mendengarkan penuturan Sahabat Umar, betapa aku ingin sekali engkau mengetahui bagaimana keseharian Nabi kita.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Diambil dari Chanel telegram : @arafat_chanel

Disqus Comments